Rabu, 21 September 2011

PROTOZOA

Protozoa adalah  sekelompok organisme yang bersel satu, jumlahnya kurang lebih 50.000 species yang telah diidentifikasi dan 20.000 species yang berupa fosil. Ribuan spesies dideskripsikan sebagai organisme yang bebas sedangkan lainnya hidup secara parasit pada hewan lain.
Protozoa hidup di lingkungan yang basah, misalnya dalam air baik tawar, maupun air bergaram atau dalam tanah yang basah sampai kedalaman kurang lebih 20 cm, dalam tubuh manusia atau hewan tingkat tinggi lainnya yang bercairan, atau di semua tempat di mana saja. Jumlah hewan protozoa dalam suatu tempat sering sangat menakjubkan, misalnya dalam suatu kolam dapat mencapai jutaan hewan, bahkan milyaran. Alat gerak protozoa bermacam-macam dari yang sederhana berupa pseudopodia sampai flagella dan silia. Pseudopodia selalu dibentuk dari ektoplasma, walaupun endoplasma akan mengikutinya dan pada tubuh protozoa akan dijumpai plastida dan benda-benda sejenisnya, misalnya khromatofora, piroid, stigmata, pigmen dan alat-alat simbiotik.
            Hewan paling sederhana di dunia ini adalah protozoa. Disebut paling sederhana karena hewan tersebut hanya terdiri dari satu sel dan biasanya berukuran mikroskopis antara 5-5.000 mikron, rata-rata antara 30-300 mikron (Sugiarji, 2005: 26).
            Protozoa berasal dari bahasa yunani, yaitu protos yang artinya pertama dan zoon yang artinya hewan. Protozoa merupakan hewan bersifat uniseluler, dimana setiap satu sel protozoa merupakan keseluruhan dari organisme itu sendiri. Protoplasma dari protozoa dapat mengadakan modifikasi-modifikasi atau penonjolan-penonjolan yang dapat bersifat sementara atau tetap (Hartati, 2009: 17).
            Protozoa merupakan sekelompok makhluk yang bersel tunggal, yang heterogen, meliputi kurang lebih 50.000 species yang telah diberi nama, dan 20.000 species yang telah berupa fosil. Ribuan species telah berhasil dideskripsikan sebagai makhluk yang hidup bebas dan sebagian lainnya hidup secara parasit pada hewan lain, terutama hewan tingkat tinggi. Jumlah hewan protozoa dalam suatu tempat sering sangat menakjubkan, misalnya dalam suatu kolam dapat mencapai jutaan hewan, bahkan milyaran (Maskoeri, 1984: 31).
            Protozoa yang jumlahnya besar itu mempunyai ciri-ciri yang berbeda, dan beberapa ahli membagi menjadi 3 kingdom dan puluhan phyla. Sehubungan dengan hal tersebut Whittaker (1969) mencoba mengklasifikasikan protozoa yang beraneka ragam itu satu kingdom lain. Seperti kita ketahui bahwa hewan pada masa lalu hanya terdapat satu kingdom yaitu kingdom Animalia, yang banyak diterima orang (Maskoeri, 1984: 31).
            Seperti halnya sel makhluk hidup lain, sel protozoa terdiri dari protoplasma yang dibungkus membran sel (plasmolemma) yang berfungsi sebagai “dinding sel”. Protoplasma terdiri dari dua komponen utama yaitu inti sel (nukleus) dan isi sel atau sitoplasma. Dengan menggunakan mikroskop akan terlihat bahwa sitoplasma terdiri atas dua bagian. Bagian terluar tampak homogen dan jernih (hyalin) disebut ektoplasma, dan bagian dalam disebut endoplasma. Dalam endoplasma terlihat benda-benda seperti butir-butir kecil dan serabut benang halus yang ternyata adalah materi mengandung protein, karbohidrat, lemak, garam mineral, serta organel. Protozoa tidak memiliki organ sejati seperti alat pencernaan dan alat reproduksi sebagaimana layaknya metazoa. Akan tetapi mampu melakukan semua kegiatan biologis seperti bergerak, makan, bernapas, dan reproduksi. Proses-proses tersebut dilakukan oleh bagian di dalam sel, yang disebut vakuola kontraktil (Sugiarji, 2005: 26).   
Sebagian besar Protozoa berkembang biak secara aseksual (vegetatif) dengan cara : pembelahan mitosis dan spora. Pembelahan mitosis (biner), yaitu pembelahan yang diawali dengan pembelahan inti dan diikuti pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel baru. Pembelahan biner terjadi pada Amoeba,  Paramaecium. sp, dan Euglena. sp. Paramaecium membelah secara membujur/ memanjang setelah terlebih dahulu melakukan konjugasi. Euglena membelah secara membujur /memanjang (longitudinal). Spora, Perkembangbiakan aseksual pada kelas Sporozoa (Apicomplexa) dengan membentuk spora melalui proses sporulasi di dalam tubuh nyamuk Anopheles. Spora yang dihasilkan disebut sporozoid. Perkembangbiakan secara seksual pada Protozoa dengan cara : konjugasi dan sporozoa. Konjugasi, Peleburan inti sel pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya. Pada Paramaecium. sp mikronukleus yang  sudah dipertukarkan akan melebur dengan makronukleus, proses ini disebut singami. Peleburan gamet Sporozoa (Apicomplexa) telah dapat menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Peleburan gamet ini berlangsung di dalam tubuh nyamuk (Anonim, 2010).
            Pernapasan atau pertukaran oksigen dan karbondioksida berlangsung secara difusi karena adanya perbedaan tekanan gas di dalam sel dan di luar sel. Protozoa bergerak dengan menggunakan kaki semu (pseudopodia), cilia, atau flagella. Pseudopodia berasal dari penjuluran sitoplasma, dan bersifat sementara terutama untuk berpindah tempat atau makan. Gerakan tersebut timbul akibat dari kontraksi protoplasma memanjang dan memendek secara lambat. Protozoa yang bergerak dengan pseudopodia  adalah dari kelas Sarcodina. Pseudopodia dibagi dalam empat tipe atas dasar bentuk penjuluran protoplasmanya yaitu; lobopodia, filopodia, reticulopodia, dan axopodia (Sugiarto, 2005: 26-27).
            Cilia atau bulu getar merupakan alat gerak yang berbentuk bulu-bulu halus, biasanya banyak dan selalu bergetar. Ada beberapa tipe-tipe cilia, yaitu; Holotrich, Heterotrich, Peritrich, dan Hypotich (Hartati, 2009: 28).
            Flagela (bulu cambuk) merupakan alat gerak berupa protoplasma panjang seperti cambuk, berjumlah satu atau lebih tetapi umumnya dua helai. Flagela berfungsi sebagai alat gerak maju dengan kecepatan antara 15 sampai 300 mikron per detik (Sugiarto, 2005: 28).
            Cara makan protozoa ada 3 macam; yaitu autotrof, heterotrof, dan amfitrof. Autotrof artinya dapat mensintesis makanan sendiri seperti layaknya tumbuh-tumbuhan dengan jalan fotosintesis. Protozoa yang tidak dapat melakukan fotosintesis, mendapatkan makanannya dengan jalan menelan benda padat, atau memakan organisme lain seperti bakteri, jamur atau protozoa lain bersifat heterotrof. Protozoa yang bersifat autotrof dan heterotrof disebut amfitrof (Sugiarto, 2005: 28).
            Protozoa yang bersifat heterotrof dan dinding selnya terdiri dari suatu membran tipis, mengambil makanannya dengan cara membungkus makanan kemudian menelannya ke dalam sitoplasma. Cara ini disebut fagositosis. Pada jenis yang berdinding tebal (petikula), cara mengambil mangsanya dengan menggunakan mulut sel yang disebut cytostome, dan biasanya dilengkapi cilia untuk mengalirkan air hingga bila ada makanan yang lewat dapat ditangkap dan dimasukkan ke dalam sitoplasma (Sugiarto, 2005: 28).
 Makanan yang masuk ke dalam sitoplasma bersama air akan ditempatkan dalam suatu rongga kecil yang disebut gastriola (vakuola makanan). Makanan di dalam gastriola dicerna secara enzimatis. Hasil pencernaan disebarkan ke seluruh bagian protoplasma dengan proses dengan proses pynocytose, sedangkan sisa pencernaan dibuang melalui lubang sementara pada membrane sel; pada flagelata dan ciliata adakalanya terdapat lubang permanen yang disebut cytopyge atau cytoproct. Kelebihan air dalam sel akan dikeluarkan oleh organel yang disebut vakuola kontraktil dengan gerakan sistol dan diastolnya. Dalam suatu sel protozoa biasanya ditemukan beberapa vakuola kontraktil yang terdapat dekat dinding sel. Vakuola kontraktil pada protozoa yang hidup di air tawar berkembang dengan baik, sedangkan yang di laut kurang berkembang (Sugiarto, 2005: 28-29).
Sampai saaat ini diperkirakan ada 50.000 spesies protozoa yang sudah diidentifikasi. Habitat hidupnya di laut, air payau, air tawar dan daratan yang lembab maupun pasir kering. Diantaranya banyak yang hidup bebas dan merupakan makanan bagi organisma dari tingkatan yang lebih tinggi. Beberapa jenis flagelata dan ciliate merupakan makanan bagi anak ikan. Akan tetapi banyak juga yang hidup sebagai parasit baik pada hewan, tumbuhan maupun pada manusia. Parasit pada ikan antara lain Trichodina dan Ichthyophthirius dari kelas ciliate, serta Heneguya dari kelas Myxosporea. Adapula jenis protozoa yang dapat menghasilkan racun seperti Pyrodinium bahamense yang diduga sebagai penyebab red tide atau pasang merah di berbagai pantai daerah Indopasifik, misalnya India, Thailand, Singapura, Sabah, Philipina, Indonesia, dan Australia. Disamping itu ada juga jenis protozoa yang dapat digunakan untuk mencegah serangan protozoa jenis tertentu. Misalnya Tetrahymena pyriformis digunakan sebagai vaksin pencegah serangan jenis Ichthyophthirius multifiliis (Anonim, 2010).

1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, kaca preparat, deck glass dan pipet biasa.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut methylen blue encer, sampel air yang diperoleh dari tempat genangan air seperti pada genangan air selokan, air kolam, air jerami, dan tissue.
3. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang digunakan pada praktikum ini sebagai berikut;
1.    Mengambil sampel air dengan menggunakan pipet, meletakkan dengan hati-hati di atas objek gelas lalu mengamati pada mikroskop (mengusahakan mulai pada perbesaran terkecil).
2.    Mengamati struktur morfologi ataupun anatomi dari organisme yang telah diamati kemudian mencatat jenisnya.
3.    Dapat memberi pewarna pada organisme tersebut, misalnya methylen blue encer dengan cara meneteskan pada salah satu sisi deck glass dan menghisapnya dengan menggunakan tissue atau kertas saring pada sisi lain deck glass

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1.    Air selokan (Paramecium sp)
Perbesaran : 10 X 10
                                                                                    Keterangan :
1.        Cilia
2.        Membrane plasma
3.        Endoplasma
4.        Mikronukleus
5.        Makronikleus
6.        Cell mulut
7.        Sitoplasma
8.        Ektoplasma
9.        Vakuola kontraktil
10.    Vakuola makanan
11.    Sitosoma


2.Air selokan (Chlamidomonas sp)
Perbesaran : 10 X 10
Keterangan :
1.      Dinding sel
2.      Mitokondria
3.      Badan golgi
4.      Nukleus
5.      Pyrenoid body
6.      Kloroplas
7.      Star granule
8.      Vakuola kontraktil
9.      Flagella
1.      Paramecium sp
a.       Morfologi
Paramecium ini berukuran sekitar 50-350ɰm. yang telah memiliki selubung inti (Eukariot). Protista ini memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang berfungsi untuk mengendalikan kegiatan reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Sistem reproduksi pada protista yaitu secara aseksual (membelah diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan konjugasi). Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air. Cara menangkap makanannya adalah dengan cara menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya. memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.
b.        Anatomi
Paramecium memiliki bentuk oval, sandal, bulat di bagian depan / atas dan menunjuk di belakang / bawah.  Kulitnya tipis dan elastis. Adapun yang menutupi kulit tipis adalah rambut-rambut kecil banyak, yang disebut silia. Lubang bagian belakang disebut pori anal. Pada bagian luar paramecium ditemukan vakuola kontraktil dan kanal. Dan bagian dalam paramecium terdapat sitoplasma, trichocysts, kerongkongan, vakuola makanan, macronucleus dan mikronukleus itu sendiri. Paramecium sering disebut sepatu animalcules karena bentuknya seperti sepatu. Paramecia adalah organisme uniseluler biasanya kurang dari 0,25 mm (0,01 in) panjang dan ditutupi dengan rambut yang disebut silia. Silia digunakan dalam gerak dan selama makan. Ketika bergerak melalui air, paramecia mengikuti jalan spiral sementara berputar pada sumbu panjang. Paramecium memiliki inti besar yang disebut macronucleus, dan satu atau dua inti kecil yang disebut micronuclei. Reproduksi aseksual biasanya oleh pembelahan biner melintang, kadang-kadang seksual dengan konjugasi, dan jarang oleh endomixis, proses nuklir yang melibatkan reorganisasi total DNA organisme individu. Macronuclear di Paramecium memiliki gen kepadatan tinggi sangat. macronucleus dapat berisi sampai 800 eksemplar dari setiap gen. Paramecia berlimpah-limpah di kolam air tawar di seluruh dunia; satu spesies hidup di perairan laut.
Paramecium menggunakan pemukulan silia pada saat berenang. Bergeraknya paramecium oleh spiral melalui air pada sumbu yang tak terlihat. Paramecium bergerak mundur, para silia hanya mengalahkan maju di sudut. Jika paramecium berjalan ke arah benda padat berubah silia dan memukul ke depan, menyebabkan paramecium untuk pergi ke belakang. paramecium itu berbalik sedikit dan berjalan maju lagi.
Paramecium memakan mikroorganisme seperti bakteri, alga, dan ragi. paramecium menggunakan silia untuk menyapu makanan bersama dengan air ke dalam mulut sel setelah jatuh ke dalam alur lisan. Makanan berjalan melalui mulut ke dalam tenggorokan dalam sel. Jika ada cukup makanan di dalamnya sehingga telah mencapai ukuran tertentu, melepaskan diri dan membentuk vakuola makanan.  Vakuola makanan berjalan menuju sel. Lalu bergerak sepanjang enzim dari sitoplasma masuk vakuola dan mencernanya. Makanan dicerna kemudian masuk ke dalam sitoplasma dan vakuola semakin kecil dan lebih kecil. Ketika vakuola mencapai pori anal limbah sisa belum dicernakan akan dihapus. Paramecium dapat mengeluarkan trichocyts ketika mereka mendeteksi makanan, dalam rangka untuk lebih menangkap mangsanya. Trichocyts ini diisi dengan protiens. Trichocysts juga dapat digunakan sebagai metode pertahanan diri. Paramecium adalah heterotrophs. bentuk umum mereka dari mangsanya adalah bakteri. Organisme tunggal memiliki kemampuan untuk makan sehari 5.000 bakteri. Mereka juga dikenal untuk makan ragi, alga, dan protozoa kecil ambil. Paramecium mangsanya melalui fagositosis.
c.         Habitat
Habitat dari Paramecium yaitu hidup di perairan, biasanya stagnan, air hangat. Spesies Paramecium bursaria bentuk hubungan simbiotik dengan ganggang hijau. Ganggang ini hidup di sitoplasma nya. fotosintesis ganggang menyediakan sumber makanan untuk Paramecium. Beberapa spesies membentuk hubungan dengan bakteri. Mereka tidak bisa tumbuh di luar organisme ini. Spesies ini mengakuisisi-shock perlawanan panas ketika terinfeksi obtusa Holospora, yang berkontribusi terhadap gerakan silia. Paramecium juga dikenal sebagai mangsa untuk Didinium .
Paramecia berperan dalam siklus karbon karena bakteri mereka makan sering ditemukan pada tanaman membusuk. Paramecium akan memakan materi tanaman membusuk di samping bakteri, lebih lanjut membantu dekomposisi.

d.        Klasifikasi
Adapun klasifkasi Paramecium .sp yaitu :
Kingdom               : Protista
Filum                     : Ciliophora
Class                      : Ciliatea
Subkelas                : Rhabdophorina
Ordo                      : Peniculida
Subordo                : Hymenostomatida
Family                   : Parameciidae
Genus                    : Paramecium
Species                  : Paramecium .sp

Sedangkan jenis-jenis Paramecium itu sendiri terbagi atas :
Paramecium Aurelia
Paramecium bursaria
Paramecium caudatum
Paramecium tetraurelia

2.        Chlamidomonas sp
a.       Morfologi
Chlamydomonas merupakan genus dari ganggang hijau yang bersifat uniselular dan bergerak dengan flagelata. Chlamydomonas digunakan sebagai model organisme untuk biologi molekular, terutama pembelajaran pergerakkan flagella dan dinamika kloropas, biogenesis dan genetika.
Reproduksi chalamydomonas secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara membentuk zoospora melalui pembelahan inti secara mitosis, sedangkan reproduksi seksualnya dimulai dengan membelahnya sel dan kemudian menghasilkan gamet jantan atau gamet betina. Kedua jenis gamet tersebut akan dihasilkan dengan bentuk yang dan ukuran yang sama dan akan membentuk zigot yang dinding selnya tebal atau zigospora. Setelah terbentuk Zigospora, dinding tebal zigospora akan pecah dan keluar zoospora. Kemudian akan melakukan pembelahan meiosis untuk membentuk sel anak Chlamydomonas
Chlamydomonas merupakan sel haploid berflagela. Selama reproduksi seksual, sel tersebut akan melakukan tiga kali pembelahan mitosis dan membentuk 2-8 sel haploid berflagela.
b.        Anatomi
Dua filamen sitoplasma, flagela, (sing. flagela), memperpanjang dari satu ujung, dan banyaknya mereka cambuk-seperti tarik Chlamydomonas melalui air dan memutar itu pada saat yang sama, satu kloroplas berbentuk cangkir menempati sebagian besar sel. Dalam kloroplas ini merupakan wilayah protein yang disebut pyrenoid, yang terlibat dalam produksi pati dan sering dikelilingi oleh butiran pati.
Sebuah daerah sitoplasma dekat asal flagela ini sangat sensitif terhadap cahaya, dan terkait dengan ini adalah tempat pigmen merah, yang bayangan ketika dilemparkan pada daerah sensitif diperkirakan menimbulkan gerakan berputar pada Chlamydomonas dan membawanya ke kawasan di mana intensitas cahaya yang paling cocok untuk itu.
Chlamydomonas membuat makanan dalam cara yang sama seperti tanaman hijau, tapi tanpa sistem yang rumit dari akar, batang dan daun dari tanaman yang lebih tinggi. Hal ini dikelilingi oleh air yang mengandung karbon dioksida terlarut dan garam sehingga di dalam terang, dengan bantuan kloroplas, ia dapat membangun pati oleh fotosintesis. Dari karbohidrat ini, dengan unsur-unsur tambahan, dapat mensintesis semua bahan lainnya yang diperlukan untuk keberadaannya.
c.         Habitat
Chlamydomonas adalah hidup di air tawar. Dalam kondisi baik individu Chlamydomonas akan terus tumbuh dan kemudian, pada ukuran tertentu, berkembang biak dengan pembelahan sel. flagela yang ditarik, sitoplasma menyusut sedikit dalam dinding sel, nukleus dan sitoplasma kemudian membagi sekali, dua kali, atau kadang-kadang tiga kali, untuk memberikan dua, empat atau delapan unit terpisah dari sitoplasma masing-masing dengan inti dan kloroplas. Masing-masing unit membentuk dinding sel baru dan sepasang flagella.
d.        Klasifikasi
Adapun Klasifikasi dari Chlamidomonas sp yaitu :
Kingdom                : Plantae
Divisi                      : Chlorophyta
Kelas                       : Chlorophyceae
Ordo                       : Volvocales
Famili                      : Chlamydomonadaceae
Genus                     : Chlamydomonas
Species                    : Chlamidomonas .sp


Adapun yang termasuk spesies Chlamidomonas sp yaitu :
Chlamydomonas reinhardtii
Chlamydomonas moewusii
Chlamydomonas nivalis


KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut;
1.    Berdasarkan struktur dan alat geraknya atau berdasarkan fase yang dominan selama siklus hidupnya, protozoa terdiri dari; Sarcodina atau Rhizopoda, Magitisphora atau Flagellata, Sporozoa, Ciliata atau Infuzoria, dan, Suctoria.    
2.    Protozoa terdiri dari protoplasma yang di bungkus membran sel yang berfungsi sebagai dinding sel. Protoplasma terdiri dari dua komponen utama yaitu inti sel (nukleus) dan isi sel atau sitoplasma.
DAFTAR PUSTAKA
Suwignyo, Sugiarji, dkk. Avertebrata jilid I. Bogor: Penebar Swadaya. 2005
Jasin, Maskoeri. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya. 1984
Hartati.  
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar